post-image
user

Kepolisian Resort Cilegon bekerjasama dengan Dinas Kominfo Cilegon mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Penanggulangan Berita Bohong ( Hoak) dan Pencegahan Persekusi Dalam Menciptakan Harkamtibmas, bertempat di Aula Polres Cilegon, Kamis (1/3).


Tampak hadir pada kegiatan tersebut, Kapolres cilegon   AKBP R. Rhomdon Natakusuma, S.Ik., MH., Kepala Dinas Kominfo Cilegon Achmad Jubaedi, M.Si., yang sekaligus sebagai narasuber, Kasat Binmas Polres Cilegon AKP. Bhakti Yasa, SH., MH., Iptu Sobarna dan Iptu Bate’e, SH. Beserta jajaran kepolisian dan para Bhabinkamtibmas, Kepala seksi Desiminasi Informasi Asep Koswara, dan Kepala seksi E-gov pada Diskominfo Cilegon, tokoh masyarakat, dan unsur mahasiswa.


Menurut Kapolres Cilegon, saat ini jamannya sudah jaman mudah dan cepat, dimana setiap informasi apapun dan darimanapun bisa cepat diterima melalui media sosial. Untuk itu masyarakat harus pintar dan bijak dalam menggunakan media sosial, terutama jika mendapatkan informasi yang masih diragukan. “ masyarakat harus bijak dalam menggunakan Media Sosial, terlebih jika mendapatkan informasi jangan langsung percaya apalagi langsung di share,” terangnya.


Tidak hanya, kapolres Cilegon juga menghimbau kepada seluruh anggotanya harus melek tehnologi, dikarenakan aparat saat ini tugasnya tidak hanya memantau keamanan dan ketertiban di dunia maya, melainkan memonitoring di dunia maya juga. “ Polisi dan Tentara harus melek tehnologi, dikarenakan jika ditugaskan memonitoring  dunia maya, aparat juga harus tau,”tegasnya.


Sementara itu, narasumber pada kegiatan FGD tersebut yang  juga Kepala Dinas Kominfo Cilegon Achmad Jubaedi, dalam pemaparannya menyampaikan perkembangan era yang lebih maju dan modern serta berbasis teknologi berdampak secara luas terhadap kehidupan manusia. Terlebih dengan hadirnya media social, saat ini menjadi media yang sangat mudah dalam mengekspresikan diri tanpa di dasari akan bahaya yang berdampak.


Dikatakan Achmad Jubaedi, Hoax muncul akibat ketidakjelasan sebuah informasi, termasuk adanya perang opini di media sosial menjadi salah satu penyebabnya, yang (terkadang) berakibat pada tindakan persekusi. “  Penyebab munculnya pemberitaan hoak dan persekusi menurut  Melani Rudiantara seorang pakar dari Universitas Indonesia dianataranya, Revolusi media sosial-keterbukaan informasi dan tingginya konsumsi media sosial, literasi media minim, pengguna media sosial menjadi pengedar informasi tanpa mampu melacak kebenarannya, era Post-Truth yakni yang diunggulkan bukan kebenaran, melainkan kedekatan emosi dan konflik Horizontal,” Terangnya.


Achmad Jubaedi menghimbau kepada seluruh masyarakat penggunan media social, agar bijak dalam menggunakannya, serta mengidentifikasi informasi atau berita bohong (Hoax). “ jika mendapatkan informasi dari medsos harus di cross check dengan media lainnya, cek situs webnya, cek datanya, Masyarakat harus ikut komunitas anti Hoax,dan  cek keaslian gambar dengan cara mendownload gambarnya, lalu buka google image dialamat https://images.google.com , adapun untuk pengaduannya bisa langsung mengunjungi  screen aduan di screen capture / url link dan kirim data ke : aduankonten@mail.kominfo.go.id ,”tutupnya.